Wednesday, 14 May 2014
MENELUSURI KEHIDUPAN ANAK JALANAN YANG SUKSES DALAM HIDUPNYA
Berkelana ketempat perkumpulan anak jalanan adalah hal yang menarik dan layak menjadi topik untuk artikelku ini. Mungkin sekarang anak jalanan sudah menjadi hiasan klasik untuk hampir seluruh kota di Indonesia sebenarnya mereka menjadi seperti ini bukan karena faktor kenakalan remaja tapi lebih kepada faktor ekonomi dari keluarga mereka. Sebenarnya tidak semua orang tua membiarkan anaknya dijalan dan meminta-minta bahkan menjadi pengamen tapi terkadang anak-anak kecil seusia Sekolah Dasar mereka dipaksa untuk memiliki mental dewasa dan memecahkan solusi bagaimana caranya bisa mendapatkan uang dengan tubuhku yang kecil dan belum tamat SD dan akhirnya jalan satu-satunya adalah meminta-minta atau mengamen dijalan raya. Menurutku mereka kreatif untuk membantu orang tua mereka bekerja tapi untuk hal meminta-minta itu yang dianggap salah, jika mengamen mereka masih terbilang kreatif karena mereka bisa membuat alat ngamen mereka sendiri dari tutup botol bahkan dari kaleng bekas yang dibuang di tempat sampah. Dalam benak mereka sebenarnya ingin menjadi orang besar dan berguna tapi apa daya jika ekonomi memaksa mereka untuk menjadi seperti ini. Para anak jalanan punya daya kreasi yang sama seperti kita yang tamat pendidikan, hanya saja terkadang mereka melebihi kita karena kegigihan dan perjuangan hidup mereka yang tidak mengenal lelah untuk bekerja dan berusaha. Seharusnya kita yang merasakan pendidikan merasa malu termasuk saya karena di usia sekarang saja masih banyak yang minta orang tua bahkan Sarjana masih menganggur dan tidak menggunakan ide kreatif mereka sebagaimana mestinya. Tidak pernah terpikirkan jika seorang pengamen sekarang mampu menjadi pembisnis dibidang produksi gitar menurut penelitianku mereka bisa menjadi seperti itu sebenarnya karena terjepit ekonomi dan memaksa mereka untuk bekerja tapi tanpa pendidikan yang jelas. Mereka becerita kalau disaat itu mereka masih kecil dan tidak tahu bagaimana mencari uang akhirnya awalnya mereka cuma mengumpulkan tutup botol soda dan merakitnya untuk menjadi alat musik ngamen, tapi yang aku terkejut uang hasil ngamen tersebut disisihkan untuk membeli buku tentang belajar gitar dan buku cara membuat gitar. Walaupun mereka harus menabung selama tiga bulan untuk membeli buku tersebut tapi ternyata bermanfaat sampai saat ini. Selama 9 bulan mereka masih menggunakan alat ngamen sederhana namun sambil mempelajari buku, mereka mengumpulkan bahan kayu dan triplek yang tidak terpakai di tong sampah lalu membuatnya menjadi sebuah gitar yang sederhana dan mereka mulai untuk belajar gitar. Tidak pernah mereka duga pembelajaran secara otodidak ini malah membuat mereka lebih unggul dari anak yang berkuliah karena mereka bisa membuat hal yang sederhana itu menjadi sebuah karya yang luar biasa dan sekarang mereka bisa membangun sebuah rumah produksi gitar yang bisa menghidupi mereka dengan layak. Melalui cerita ini diharapkan semua orang termotivasi dengan suatu hal yang kecil dan tidak mengabaikan sebuah buku karena itulah yang akan mebawamu ketempat yang layak didalam hidupmu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment